MEREKONTRUKSI METODE PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS EPISTEMOLOGI UNTUK MEMBENTUK GENERASI YANG KRITIS DAN BERMORAL

 

Nama                       : Dwi intan sugiharti

Nim                          : 12401020

Kelas                       : 2 (A)

Prodi                        : PAI ( Pendidikan Agama Islam )

Mata Kuliah             : Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu   : Dr. Syamsul Kurniawan M.Si

                                    Khairunnisyah M.Pd


oleh : dwi intan sugiharti

Kita sekarang hidup di tengah tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Informasi bisa datang kapan saja dan dari mana saja, terutama melalui media sosial dan internet. Anak muda saat ini adalah generasi yang sering terjebak informasi yang belum tentu kebenaran nya. Karna tidak semua informasi yang mereka dapat kan itu benar dan bermanfaat. Banyak dari mereka yang menerima begitu saja tanpa berpikir panjang,bahkan enggan untuk mengecek kebenaran informasi yang mereka temui. Kebiasaan itulah yang pada akhirnya membentuk pola pokir yang dangkal dan tidak kritis.

Masalah ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan saat ini, khususnya pendidikan islam ,karna pendidikan islam sejak awal bertujuan untuk membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak, dan bijaksana. Namun kenyataanya, metode yang banyak di gunakan di sekolah sekolah islam masih bersifat lama dan kurang efekti bagi siswa. Guru lebih banyak menyampaikan materi, siswa mendengarkan dan menghafal. Tidak banyak ruang yang diberikan untuk siswa berdiskusi atau berfikir secara mendalam. Oleh karna itu sangat penting untuk meninjau kembali metode pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan islam. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan melihat kembali bagaimana ilmu pengetahuan itu dipahami dan diperoleh menurut islam,atau dalam isltilah lain di sebut epistemologi. Dengan pendekatan ini pendidikan islam dapat kembali pada tujuan nya, yaitu membentuk manusia yang tidak hanya tahu,tetapi juga mengerti dan mampu berfikir secara bijak.

Dalam pandangan islam, pendidikan tidak hanya sekedar memberikan ilmu pengetahuan,tetapi juga membentuk karakter dan cara berfikir yang baik. Turmudzi(2021) menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup dan membantu manusia berkembang dalam siap akal dan tindakannya. Sedangkan menurut kurniawan dan ria(2022) pendidikan islam adalah upaya mengembangkan potensi manusia melalui pendekatan intelektual dan spiritual, dengan berlandaskan pada nilai nilai islam agar manusia dapat bahagia didunia dan akhirat.

Ada empat cara utama dalam Islam untuk memahami ilmu pengetahuan, seperti yang dijelaskan oleh Umam dan Zafira'Ulfiana (2025). Pertama, pendekatan bayani, yaitu memahami ilmu pengetahuan dari teks-teks seperti Al-Qur'an dan hadis. Kedua, burhani, yaitu dengan berpikir secara logis dan rasional. Ketiga, tajribi, yang bersumber dari pengalaman nyata. Dan keempat, irfani, yaitu pemahaman yang bersumber dari hati atau perasaan.namun, kenyataannya dalam praktiknya di sekolah, yang paling banyak digunakan hanya pendekatan bayani. Akibatnya, siswa sering kali diminta untuk menghafal teks tanpa dibimbing untuk memahami, menganalisa, atau mengaitkannya dengan kehidupan nyata.

Menurut aziz dkk. (2025) jika pendekatan pendidikan islam yang hanya berfokus pada hafalan dan hanya mendengarkan penjelasan saja akan menyulitkan siswa lulusan pendidikan islam ketika nantinya menghadapi perubahan sosial,teknologi,atau bahkan tantangan dalam pekerjaan. Menurut saya memang hal ini sudah banyak terjadi. Banyak anak muda yang hafal alquran hadis namun bingung ketika harus mengambil keputusan atau menghadapi masalah dilingkungannya. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara apa yang di ajarkan dengan apa yang mereka alami sehari hari.

Naquib Al-Attas, seorang pemikir pendidikan Islam, menekankan pentingnya adab, yaitu kesopanan dan kebijaksanaan dalam belajar. Menurut penjelasan Rawanita dan Walidin (2025), pendidikan seharusnya membuat manusia mengetahui tempat dan nilai sesuatu. Artinya, belajar bukan hanya tentang benar dan salah, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai pengetahuan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.tapi sayangnya, pembelajaran yang menekankan pada hafalan tidak memberikan ruang bagi siswa untuk merefleksikan pikiran nya dan bertanya.

Lalu bagaiamana cara untuk merubah metode pendidikan islam saat ini?

Menurut saya, salah satu langkah penting untuk memulai perubahan ini adalah dengan melatih para guru untuk memahami pendekatan epistemologi Islam secara menyeluruh. Jika mereka tahu bahwa belajar bukan hanya tentang menghafal, tapi juga refleksi dan berpikir logis, maka mereka dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran. Kurikulum juga harus lebih terbuka untuk diskusi dan pembelajaran kontekstual. Siswa perlu dilatih untuk bertanya, berdialog, dan bahkan meragukan sesuatu sebagai bagian dari proses pembelajaran. Guru juga harusnya lebih dari sekedar pemberi materi, mereka harus menjadi pemandu pemikiran. Selain itu, kurikulum juga harus disesuaikan dengan tantangan zaman. Pelajaran agama juga bisa dikaitkan dengan isu isu nyata, seperti bagaimana islam memandang media sosial,lingkungan,atau etika dalam teknologi. Dengan begitu, siswa akan merasa bahwa ilmu yang mereka pelajari benar benar bermanfaat dan sesuai dengan kehidupan mereka.

Jika metode pembelajaran diubah dan disesuaikan dengan cara berpikir Islam yang lebih lengkap, saya yakin pendidikan Islam akan kembali menjadi kekuatan utama dalam membangun generasi muda yang kritis, bijak dan bermoral. Mereka tidak hanya akan mengetahui banyak hal, tetapi juga mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan. Mereka akan mampu berpikir sebelum bertindak, memilih dengan bijak di tengah melimpahnya informasi, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi metode pembelajaran dalam pendidikan islam merupakan langkah yang sangat penting untuk menjawab kebutuhan zaman. Pendidikan islam tidak bisa terus bertahan dengan metode lama yang terlalu berpusat pada hafalan atau hanya memberi penjelasan untuk didengar saja. Sudah saatnya memperbarui pendekatan pembelajaran dengan mengintegrasikan sumber-sumber pengetahuan Islam seperti teks, logika, pengalaman, dan intuisi sehingga menyentuh seluruh aspek manusia. Pendidikan harus mendorong siswa untuk berpikir kritis, tidak hanya sekedar tahu jawabannya, tetapi juga mampu memahami makna di baliknya.

Harapan saya kedepannya pendidikan islam tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami agama secara teoritis, tetapi juga memiliki kemampuan menyikapu persoalan hidup dengan bijak. Guru perlu dikembangkan menjadi pembangun karakter sekaligus fasilitator berfikir. Kurikulum juga harus dibentuk agar lebih dekat dengan realitas yang dihadapi siswa sehari-hari. Dengan begitu, pendidikan Islam akan benar-benar menjadi pilar utama dalam membentuk manusia yang berpikir jernih, berakhlak mulia, dan siap menjawab tantangan zaman dengan keimanan yang kokoh.

Referensi:

Aziz, A., dkk. (2025). Tantangan dan Problematika Pendidikan Masa Kini dalam Perspektif Islam di Era Globalisasi. Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 2(2).

Kurniawan, S., & Ria, M. (2022). Buku Ajar Pendidikan Islam. Pontianak Kalbar.

Rawanita, M., & Walidin, W. (2025). Kerangka Dasar Pemikiran Pendidikan Naquib Al-Attas: Rekonstruksi Konseptual dalam Filsafat Pendidikan.

Turmudzi, M. (2021). Konsep Pendidikan dan Islam Sebagai Alternatif Dalam Memanusiakan Manusia. Jurnal Pendidikan Islam, 19(2).

Umam, N., & Zafira’Ulfiana, I. (2025). Epistemologi Islam: Integrasi Bayani, Burhani, Irfani, dan Tajribi dalam Menjawab Tantangan Peradaban Modern.

 

Komentar